[BOGOR] – Menghadapi dinamika dunia kerja yang kian tidak menentu akibat pergeseran teknologi, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) mengambil langkah proaktif. Melalui kolaborasi besar antara BEM FITK, HIMA FITK, dan HIMA PGMI, telah dilaksanakan workshop bertema “Peluang dan Tantangan Kerja Mahasiswa MPI di Era Disruption” pada Kamis (13/10/2022).

Bertempat di Gedung Bale Edi Raya, acara ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa yang antusias menyimak peta jalan karier di masa depan. Kegiatan ini bukan sekadar diskusi rutin, melainkan upaya strategis fakultas dalam mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri 4.0.

Hadir sebagai narasumber utama, Dr. Sri Rahmi, MA., memberikan pemaparan tajam mengenai posisi tawar lulusan MPI. Beliau menjelaskan bahwa istilah “disrupsi” bukan sekadar tren teknologi, melainkan perubahan mendasar pada cara kerja organisasi pendidikan.

Dalam orasinya, Dr. Sri Rahmi menekankan tiga pilar utama yang harus dimiliki mahasiswa diantaranya agilitas kognitif  sebagai kemampuan untuk beralih dari pola pikir manajemen tradisional menuju manajemen berbasis data dan digital. Kecerdasan Sosial di era di mana mesin mulai mengambil alih tugas rutin, kemampuan negosiasi, empati, dan kepemimpinan transformasional menjadi aset termahal lulusan MPI. Terakhir Inovasi Tata Kelola, mahasiswa ditantang untuk mampu menciptakan model manajemen pendidikan yang lebih efisien dan fleksibel.

“Mahasiswa MPI adalah arsitek pendidikan. Di era disrupsi, Anda tidak hanya mengelola sekolah, tetapi mengelola perubahan. Jika Anda tidak mampu beradaptasi dengan teknologi, maka Anda akan terdisrupsi oleh sistem itu sendiri,” tegas Dr. Sri Rahmi.

Hal yang menarik dari kegiatan ini adalah kuatnya sinergi antar organisasi mahasiswa di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK). Kolaborasi antara BEM FITK, HIMA FITK, dan HIMA PGMI ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa tantangan masa depan harus dihadapi bersama, lintas program studi.

Ketua panitia penyelenggara dalam sambutannya menyampaikan bahwa pemilihan lokasi di Bale Edi Raya dimaksudkan untuk menciptakan suasana diskusi yang lebih eksklusif dan fokus, sehingga transfer ilmu dari narasumber dapat terserap maksimal.

Meskipun disrupsi membawa banyak tantangan, Dr. Sri Rahmi juga membedah peluang-peluang baru yang muncul, seperti konsultan pendidikan digital, pengembang kurikulum berbasis teknologi, hingga analis kebijakan pendidikan yang berbasis AI.

Acara yang berlangsung dari pagi hingga siang hari ini diakhiri dengan sesi bedah kasus dan diskusi interaktif. Banyak peserta yang menggali lebih dalam mengenai tips menembus pasar kerja internasional bagi lulusan manajemen pendidikan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *